

Motomazine.com – Masbro, Valentino Rossi yang sudah mengalami berbagai macam era balap MotoGP sempatkan melontarkan komentar jikalau 15 tahun lalu jalannya balap motor terakbar sedunia ini jauh lebih romantis. Hal ini merunut pada cara kerja dan suasana tim yang tensinya kini terasa lebih tinggi.
Seperti kita tahu masbro, Valentino Rossi sudah jalani balap kelas 125 cc 2-tak, 250 cc 2-tak, 500 cc 2-tak, MotoGP era 4-tak 1000cc, 800cc, 990 cc, hingga kembali lagi ke 1000 cc. Dari semua kelas yang diikutinya itu Rossi berhasil mengoleksi 9 kali gelar juara dunia.
Lebih jauh menurut Rossi perbedaan yang kian mencolok ini diakibatkan oleh seragamnya kubikasi mesin yang dibatasi keseragaman ECU hingga supplier ban tunggal. Dengan adanya aturan-aturan ini, maka kinerja tim dan pembalap jadi jauh lebih detail, bahkan hal-hal kecil terus menjadi perhatian pembalap.
Semua pembalap jadi bekerja dengan hal-hal kecil yang lebih detail seperti setting motor dan juga pengesetan elektronik untuk mengatur laju motor dari tikungan demi tikungan, juga satu zona pengereman ke pengereman yang lain.
“Saya rasa perbedaan terbesar dibanding 15 tahun lalu adalah selisih jarak yang selalu dekat sejak sesi latihan bebas,”tutur Rossi.
“Menurutku dibanding 15 tahun lalu, level profesionalitas balap MotoGP ini jauh lebih meningkat. Kini tim, khususnya pembalap berusaha terus belajar, memahami dari satu tikungan ke tikungan berikutnya, juga belajar pengereman untuk laptime terbaik.”
“15 tahun lalu jauh lebih romantis! Kamu hanya perlu mengendarai motor dan merasakan sensasinya. Tidak bekerja sedetail sekarang. Dan itu sedikit mmebosankan. Saya rasa inilah perbedaan terbesarnya, tapi itu tentu bagus untuk kejuaraan,” lanjut pembalap berjuluk The Doctor tersebut.
Yoi masbro, 15 tahun lalu balap MotoGP jauh lebih natural. Pembalap mengandalkan 60 persen skillnya untuk menaklukkan motor. Hanya 40 persennya saja diperintah elektronik.
Maka hasilnya, tak jarang kita melihat pembalap yang sering melakukan kesalahan seperti keluar lintasan saat berakselerasi, hingga high side hebat yang membuat gagal finish.
Jangankan sampai memakai gaya elbow down atau head down. Pembalap MotoGP tempo dulu lebih fokus pada bagaimana motor bisa berbelok cepat tanpa harus wheelie berlebih, termasuk bagaimana membuat tikungan tercepat hanya dengan mengandalkan feeling dan skill.
Tak heran jika pada akhirnya Rossi, Capirossi hingga Garry Mc Coy begitu getol memamerkan aksi drift atau yang disebut RWS (Rear Wheel Steering). Yakni membuat motor ngesot demi menjangkau apex tikungan lebih cepat tanpa harus terlalu menurunkan kecepatan.
Aksi burnout yang tak pernah kita temui lagi sekarang
So,itulah beberapa hal yang menurut Rossi romantis. Bercengkerama dengan motor, merasakan perilaku dan feedbacknya selama balapan adalah sesuatu yang romantis! Yang tak lagi ditemui di balap MotoGP era sekarang. Dimana sebelas pembalap bahkan bisa dipisahkan hanya dengan jarak setengah detik saja (kualifikasi MotoGP Assen 2018). Semoga berguna… (mmz)
baca juga:
- Menyedihkan, ini Alasan Rossi hingga Mlempem di Kualifikasi MotoGP Inggris
- Kalau YZR-M1 Sudah Kurang Kompetitif kenapa Gak Bikin YZR-M2?
- Meski Menderita dan hanya Finish Posisi 6 Rossi Mengaku Nikmati Balapan Austria
- Rossi Jajal Fairing Radikal M1 di Tes Brno. Efektifkah?
- Fantastis, Gaji Valentino Rossi Tembus Rp 4 ribuan per Detik. Heluk?
- Inilah Kunci yang Membuat Rossi Podium 2 di Jerman
- Marquez Masih Raja Sachsenring, Rossi dan Vinales Podium
- Rossi Membaik, Sebut Ban jadi Kunci!
- Rossi Gas Sedari Awal. Rebut Posisi Pertama di FP1 GP Catalunya
- Simbah Rossi Menggila, Rebut Pole Position dan Jebol Rekor MotoGP Mugello. Lorenzo ke-2 Vinales 3
Lebih dekat dengan Motomazine di:
- e-mail: motomazineblog@gmail.com
- facebook: motomazine.com
- twitter: motomazine
- IG: @motomazineblog
- Youtube channel: Motomazine
- WA: 085233819298
- BB: D8DCFC9A