Anak di bawah Umur dan Sepeda Motor. Dua Mata Pisau yang Siap Menghujam Kapan Saja!

Diposting pada 78 views
anak-anak usia SMP terlihat mengendarai motor, berboncengan 3 tanpa helm. sumber gambar : google

Motomazine.com – Masbro, melihat makin banyaknya anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor membuat MMZ tergelitik untuk menuangkan uneg-uneg dalam artikel berikut. Dengan segala dalih, banyak sekali orang tua yang dengan begitu mudahnya memfasilitasi anak-anaknya dengan sepeda motor. Mirisnya banyak juga dari mereka yang masih di bawah umur, dan belum dibolehkan mengendarai sepeda motor. Konflik? Jelas….Sebab anak di bawah umur dan sepeda motor bagai dua mata pisau yang siap menghujam kapan saja. Tak peduli kapan, apa dan bagaimana caranya. “wolo-wolo kuwato” semoga Tuhan senantiasa melindungi keluarga kita.

Tentunya banyak sekali kejadian di sekitar kita yang melibatkan anak di bawah umur dan sepeda motor. Sebagai kaum pekerja yang sudah sangat akrab dengan motor, pasti setiap hari kita dihadapkan pada pemandangan penuh ironi. Anak-anak di bawah umur yang pasti belum punya SIM dengan eloknya bersepeda motor ria. Terkadang sambil bercanda atau ngebut ora aturan dan sangat berpotensi mengancam pengendara di sekitarnya.

Mungkin sebagai orang tua anda juga dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit. Pertama, sebagai orang tua yang sayang anak, tentu menjadi kebanggan atau kepuasan tersendiri apabila mampu memberikan apa yang anak minta. Membrikan fasilitas mumpuni agar anak mudah menjangkau tujuannya. Ke sekolah mungkin? Tapi apakah hal itu sepenuhnya dibenarkan? Kalau semua itu benar, kenapa polisi harus menerbitkan aturan batas minimal Surat Ijin Mengemudi (SIM)? Jika tanpa tujuan kenapa setiap pelanggar yang tidak punya SIM/di bawah umur selalu ditilang?

baca juga:

Saya rasa jawabannya sudah cukup jelas yakni kembali lagi ke masalah attitude… Sebab yang namanya kendaran, mesin, hanyalah benda bergerak yang siap melesat tergantung senekat apa pengendara menguntir gasnya… Nah, jika pengendaranya saja masih berusia remaja dan di bawah umur, yang kejiwaannya sering meletup-letup, butuh pengakuan dan pembuktian,  tentu saja motor siap menjadi senjata pembunuh yang mematikan.

siswi SD terlihat beboncengan tanpa helm, ditilang Polisi

Masih sangat hangat terjadi. Kemarin lusa, Rabu (14/11/2018), di daerah Klitik Kecamatan Geneng, Ngawi Jawa Timur, dua orang siswa SMP N 2  Ngawi harus meregang nyawa di tempat kejadian akibat kehilangan kendali atas motornya. Motor matic berkubikasi 155 cc yang dikendarainya menghantam pembatas jalan akibat gagal menikung. Miris? Menyesal? Pasti… Bahkan ayah si anak langsung menangis histeris, nyaris pingsan. Kalau sudah begini, lantas siapa yang harus dipersalahkan?

Di satu sisi lain, terbatasnya fasilitas kendaraan umum menuju ke sekolah juga menjadi  kendala tersendiri. Apalagi di daerah pedesaan, jarak juga menjadikan dilema. Oke lah, untuk jenjang sekolah dasar pastinya masih banyak tersebar sekolah di daerah kelurahan. Tapi begitu bergeser ke SMP, paling gak yang ada sekolahnya pasti di wilayah kecamatan atau kabupaten. Lantas gimana dong kalau jauh?

Kembali lagi ke dasar penanaman sikap. Saya rasa orang tua jaman now harus kembali menanamkan sikap mandiri, dan tidak memanjakan anak. MMZ jadi teringat betul, bagaimana dahulu saya dan teman-teman semasa SMP harus mengayuh sepeda (bukan sepeda mahal kayak sekarang) sampai ke sekolah dengan jarak mencapai 6 kilometer, PP. Dan itu sudah terbiasa. Bahkan untuk anak-anak yang kurang beruntung saat itu, mereka harus rela jalan kaki. Padahal kebanyakan rumahnya di pegunungan. Apakah mereka mengeluh? Sama sekali tidak.

Mereka sudah terbiasa dengan bekerja keras. Banting tulang membantu orang tuanya di sawah, kebun, mencari batu sungai, pasir, atau pekerjaan apa saja yang menguras tenaga. Alhasil, berjalan atau mengayuh sepeda dengan jarak puluhan kilometer pun tak pernah dikeluhkan.

Lantas apakah yang begini cocok dengan anak jaman now? Harus diakui, sulit masbro… Entah, apakah memang jamannya sudah begini, atau memang pendidikan karakter yang makin melemah dewasa ini. Yang pasti dua mata pisau yang MMZ sebutkan barusan nyatanya menjadi kenyataan. Beberapa waktu lalu, di Aceh sana seorang anak SMAN Kluet Tengah memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri setelah dilarang membawa motor oleh ayahnya. Dengan begitu mudahnya seorang remaja mengakhiri hidupnya hanya karena tak dibolehkan membawa sepeda motor!

Dilema Orang Tua

Membingungkan…? Menimbulkan dilema…? Jelas… Sebagai orang tua pasti hal seperti ini ibarat dihadapkan pada dua mata pisau yang siap saling menghujam kapan saja. Tapi apapun itu, saya rasa pendidikan karakter, penanaman pribadi yang mandiri dan tak mudah minder sangat diperlukan dan sifatnya urgent bagi generasi muda dewasa ini. Mungkin anda berpendapat, hidup atau mati, rezeki atau apes, semuanya menjadi misteri Tuhan. Tapi apa salahnya jika kita berusaha? Berikhtiar itu wajib hukumnya, baru setelahnya serahkan saja semuanya ke Tuhan…

FYI, saat ini MMZ punya keponakan cowok kelas 1 SMP. Dia hidup bersama saya karena kedua orang tuanya kerja di luar negeri. Dan hingga saat ini dia sama sekali belum bisa mengendarai motor. Kemana-mana, termasuk ke sekolah dia selalu diantar sama mbah kungnya. Dan memang begitu seharusnya… Bahkan pernah suatu ketika iseng-iseng saya mencoba menawarinya belajar sepeda motor kepadanya. Dan apa jawabannya? “Nggak Paklik, saya takut… Nanti saja kalau sudah SMA.” ujarnya… Sontak senyuman merekah dari bibir saya…

So, marilah menjadi orang tua yang bijak. Sayang anak boleh, tapi bukan berarti selalu memanjakan dan memberikan apa saja yang anak minta. Apalagi sepeda motor. Mesin pembunuh yang siap menghancurkan siapa saja jika tak dibawa dengan attitude yang benar. Semoga berguna… (mmz)

Silahkan Komentarnya Kangbro